Ribuan warga Yordania menonton pertandingan Grup J Piala Dunia 2026 di Amfiteater Amman, Yordania, Selasa (23/6/2026). AFP/George SAIF.

Acara nonbar di Amfietater Amman tersebut berlangsung di bawah cuaca cerah. AFP/George Saif.

Amfiteater Amman juga digunakan oleh warga yang menonton pertandingan antara Yordania melawan Austria, Rabu (17/6/2026). (AP Photo/Raad Adayleh).

Jika masyarakat dunia membuat peringkat lokasi nonton bareng (nobar) Piala Dunia paling spektakuler dan megah,  bisa jadi Yordania juaranya. Salah satu negara di Timur Tengah dengan penduduk sekitar 11,5 juta jiwa ini menggunakan sejumlah amfietater peninggalan Romawi sebagai tempat kegiatan nobar yang bernuansa kolosal.

Ribuan pasang mata di Amfiteater Amman, Yordania, menahan kedipan saat menyaksikan serangan dari pemain Yordania Nizar Al-Rashdan ke area pertahanan Aljazair pada menit ke-36 pertandingan Grup J Piala Dunia 2026 dari layar raksasa di tempat bersejarah itu, Selasa (23/6/2026). Sorakan gembira sontak membahana di tempat yang dibangun pada abad ke-2 itu  ketika gol tercetak dari kegigihan Nizar tersebut.

Meski pertandingan itu berlangsung di Stadion San Fransisco Bay Arena, San Fransisco, AS, yang berjarak ribuan kilometer dari Amman, energi dukungan yang terpancar dari tempat peninggalan kekaisaran Romawi itu menggelegar kuat. Sejenak, bangunan teater berkapasitas 6.000 penonton yang dibangun saat masa pemerintahan Kaisar Antonius Pius terasa kembali ke masa jayanya, ribuan tahun lalu.

Amfiteater Amman pada jaman dahulu menjadi tempat pertunjukan musik, drama, dan perayaan budaya. Tak jauh dari amfiteater utama terdapat Teater Odeon yang berukuran lebih kecil. Tempat itu juga digunakan untuk tempat nobar Piala Dunia 2026 yang juga berlangsung semarak.

Teater Odeon berukuran lebih kecil dengan kapasitas penonton 500 orang. Pada masa lampau, bangunan peninggalan Romawi ini diperkirakan digunakan untuk pertunjukan musik atau pertemuan publik.

Pertandingan yang dinanti-nanti masyarakat Yordania itu berujung pada kekalahan tim nasional negara itu dengan skor 2-1. Yordania pun menjadi wakil Asia pertama yang harus angkat koper dari Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Yordania dikalahkan Austria dengan skor 3-1.

Meski harapan untuk maju ke babak 32 besar pupus, Piala Dunia menjadi momen bagi masyarakat Yordania untuk menggelorakan semangat kebangsaan mereka. Sepak bola pun menjadi perayaan nasional yang penuh nuansa damai. Hal itu diperkuat dengan pemilihan lokasi nobar di Amman yang memancarkan kejayaan masa lalu negara Yordania tersebut.

 

Ribuan warga Yordania menonton pertandingan Grup J Piala Dunia 2026 di Amfiteater Amman, Yordania, Selasa (23/6/2026). AFP/George SAIF.

Acara nonbar di Amfietater Amman tersebut berlangsung di bawah cuaca cerah. AFP/George Saif.

Amfiteater Amman juga digunakan oleh warga yang menonton pertandingan antara Yordania melawan Austria, Rabu (17/6/2026). (AP Photo/Raad Adayleh).

Jika masyarakat dunia membuat peringkat lokasi nonton bareng (nobar) Piala Dunia paling spektakuler dan megah,  bisa jadi Yordania juaranya. Salah satu negara di Timur Tengah dengan penduduk sekitar 11,5 juta jiwa ini menggunakan sejumlah amfietater peninggalan Romawi sebagai tempat kegiatan nobar yang bernuansa kolosal.

Ribuan pasang mata di Amfiteater Amman, Yordania, menahan kedipan saat menyaksikan serangan dari pemain Yordania Nizar Al-Rashdan ke area pertahanan Aljazair pada menit ke-36 pertandingan Grup J Piala Dunia 2026 dari layar raksasa di tempat bersejarah itu, Selasa (23/6/2026). Sorakan gembira sontak membahana di tempat yang dibangun pada abad ke-2 itu  ketika gol tercetak dari kegigihan Nizar tersebut.

Meski pertandingan itu berlangsung di Stadion San Fransisco Bay Arena, San Fransisco, AS, yang berjarak ribuan kilometer dari Amman, energi dukungan yang terpancar dari tempat peninggalan kekaisaran Romawi itu menggelegar kuat. Sejenak, bangunan teater berkapasitas 6.000 penonton yang dibangun saat masa pemerintahan Kaisar Antonius Pius terasa kembali ke masa jayanya, ribuan tahun lalu.

Amfiteater Amman pada jaman dahulu menjadi tempat pertunjukan musik, drama, dan perayaan budaya. Tak jauh dari amfiteater utama terdapat Teater Odeon yang berukuran lebih kecil. Tempat itu juga digunakan untuk tempat nobar Piala Dunia 2026 yang juga berlangsung semarak.

Teater Odeon berukuran lebih kecil dengan kapasitas penonton 500 orang. Pada masa lampau, bangunan peninggalan Romawi ini diperkirakan digunakan untuk pertunjukan musik atau pertemuan publik.

Pertandingan yang dinanti-nanti masyarakat Yordania itu berujung pada kekalahan tim nasional negara itu dengan skor 2-1. Yordania pun menjadi wakil Asia pertama yang harus angkat koper dari Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Yordania dikalahkan Austria dengan skor 3-1.

Meski harapan untuk maju ke babak 32 besar pupus, Piala Dunia menjadi momen bagi masyarakat Yordania untuk menggelorakan semangat kebangsaan mereka. Sepak bola pun menjadi perayaan nasional yang penuh nuansa damai. Hal itu diperkuat dengan pemilihan lokasi nobar di Amman yang memancarkan kejayaan masa lalu negara Yordania tersebut.

 

Baca JugaSaat Piala Dunia Harus Tunduk pada Cuaca BurukBaca JugaPenantian 92 Tahun Mesir di Piala Dunia.